Senin, 23 Januari 2012

Asal Muasal Kota Ketapang

pada jaman dahulu terdapat sebuah pohon ketapang raksasa yang tumbuh sangat subur daerah kota ketapang, saking besar dan rimbunya pohon tersebut menutupi kota ketapang dari terpaan sinar matahari, sehingga penduduk setempat sangat kesulitan untuk menjemur padi hasil ladang mereka....sampai-sampai menurut cerita masyarakat jaman dahulu harus menjemur padi mereka sampai ke daerah padang tikar..... 

Dulu kota ketapang adalah adalah suat daerah yang sangat aneh.
seluruh daerahnya ditutupi oleh pohon ketapang yang sangat besar, hingga daerah tersebut hampir tidak ada cahaya matahari.

namun semakin berkembangnya jaman maka rakyat berusaha menyingkirkan pohon ketapang raksasa tersebut(menebang) sehingga disepakatilah pohon tersebut harus ditebang...
selanjutnya setelah di tebang pohon tersebut tumbang dengan berbagai cara yang pada akhirnya bekas tumbangnya pohon tersebut lama-kelamaan terbentuklah sebuah sungai dimana bekas pohon induk membentuk sungai induk(sungai pawan) dan ranting-rantingnya membentuk anak-anak sungai kecil.....
setelah itu barulah masyarakat dapat melihat sinar matahari langsung d kota ketapang.....

kota ketapang juga terkenal akan ale-ale, yakni sebangsa hewan laut yang menyerupai kerang
yang hanya ada di ketapang, menrut cerita masyarakat ketapang ale-ale adalah buah pohon ketapang tersebut yang jatuh ke sungai pawan yang mengelilingi ketapang.
dimana sekarang hewan tersebut dijadikan simbol kota ketapang oleh masyarakat luar..sehingga masyarakat luar menyebut ketapang dengan kota ale-ale....(wallahu 'alam)








hewan tersebut dahulu dijadikan simbol pada bundaran jembatan pawan I, namun sekarang telah di renopasi dan ale-ale besar yang ada pada bundaran telah d buang........

Hewan lunak berkulit keras yang dikenal dengan nama ale ale memang banyak di periran Ketapang. Bentuknya mirif kerang dan tegolong jenis kerang kerangan. Hanya bedanya dagingnya putih dan kulit cangkangnya putih mulus. Hewan ini bnyak terdapat dikuala sungai yang berair payau. Entah sejak kapan hewan ini dimanfaatkan untuk makanan sumber protein, sehingga menjadi identitas daerah Kabupaten Ketapang yang populer sebagai kota ale ale. Namun meski sudah lama dimanfaatkan belum ada penelitian tentang hewan lunak berkulit keras ini. Secara tradisionil ale ale ini menjadi sumber protein yang murah. Sementara kultinya dulunya dijadikan penimbun jalan atau kapur sirih. Populasi hewan ini sepertinya tak pernah berkurang, apalagi adanya erosi dan sedimentasi dari lumpur sungai menambah subur kawasan muara, sehingga hewan yang menjadi maskot Ketapang ini terus saja banyak populasinya. Keberadaan hewan ini merupakan sumber matapencarian bagi nelayan dikawasan muara. Selain sumber protein dan bahan baku kapur, kulit cengkang ale ale yang banyak ini juga dapat dijadikan bahan kerajinan tangan, sayang belum banyak yang memulai.
Ale-ale bisa dinikmati dengan cara direbus terlebih dahulu dan dicampur dengan garam. Daging ale-ale bisa juga untuk campuran sayur.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar